buka mulut
saya mengalami kejadian yang kurang mengenakkan minggu lalu di salah satu apotek besar di denpasar. saya akan mengambil obat yang diresepkan dokter sebelum operasi, ketika si penerima resep menunjukkan muka yang kaku ketika menerima resep dan surat rujukan pengambilan obat dari medical provider perusahaan tempat saya bekerja. lalu cuman dalam hitungan detik, dia sudah kembali dengan mengatakan obat tidak ada. itu belum seberapa. dua minggu sebelumnya saya juga mengalami hal yang serupa di apotik yang sama.
di kejadian sebelumnya saya cuma diam saja. tapi kali ini tidak.
saya tidak ingin menginterogasi apakah medical provider perusahaan tempat saya bekerja terlambat membayar ke apotik tersebut atau apakah memang obatnya tidak ada, atau memang si penerima resep sedang punya masalah dirumah atau apalah. tapi saya tahu, saya tidak ingin menerima keluhan dari karyawan saya, karena diperlakukan seperti itu di rekanan-rekanan medical provider yang kami tunjuk untuk melayani kesehatan segenap karyawan dan keluarganya. we talk about duaribuan orang lebih.
i guess i need to speak up. otherwise nobody will listen. (dasar ceriwis yak? :D)
malam itu saya langsung menghubungi penanggungjawab medical provider rekanan kami itu. intinya saya tidak ingin hal yang sama terjadi ke karyawan di tempat saya bekerja. emang enak lagi sakit, diperlakukan kurang mengenakkan ketika akan mengambil obat?
besoknya saya ditelepon oleh direktur apotik tersebut yang memohon maaf apabila ada perlakuan yang kurang mengenakkan dari stafnya. selang satu jam, ganti customer service managernya yang menelepon untuk memohon maaf. well saya memang baik, jadi saya maafkan. hihi. errr tentu saja setelah sebelumnya saya menggunakan keceriwisan saya :p bottom of line, hal serupa tidak boleh terjadi lagi. titik. you do proper training to your staff and treat your customers with respect. alah! hihi.
terlepas dari kecurigaan saya karena kok bisa ya seorang penerima resep cuman dalam hitungan detik, meyakini dua obat yang diresepkan dokter saya itu tidak ada (bukannya biasanya ama obat musti hati-hati banget?), saya senang saya tidak blurted out ngamuk disaat pengambilan obat malam itu. karena waktu itu saya udah pengen ngamuk aja bilang, mbak kalo saya bayar cash obatnya ada? hehe. emosi. saya yakin kalau saya melakukan hal itu we wouldn't go nowhere. (kecuali diliatin orang-orang, cakep-cakep kok ngamukan :p) ketika saya speak up through correct channels, saya didengar oleh telinga yang tepat, dan hasilnya jauh lebih significant.
hmm sepertinya.
pic is from here.
11 Responded
sama seperti lihat penumpang ngamuk2 ke pramugari yg gak ngerti apa2. kalo saya nanya kapten pilot saja :D
^_^
iya..
sama kayak saya pernah dimarahin orang padahal ndak tau apa apa..
mbok ya marahin orang yang tepat gituh..
wah. untung bukan saya yang digituin. bisa 'habis' itu orang kalo sama saya mah :D
dasar ceriwis!
tapi bagus juga,
hasilnya bisa dinikmati oleh banyak orang ya.
tindakanmu sangat relevan dan signifikan :D
Mungkin hal yang sama bisa diterapkan kalau seandainya ditangkap polisi. Cari channel yang lebih atas lagi gituh.
hm, keknya kalimat2 terakhirnya sungguh keren. membantu saya yang suka temperamental dan ngamuk di tempat. :D
hm.. mengenai casenya, susah yah. padahal itu sudah konsekuensi khan? toh klo ga ada yang sakit, yg di untungkan mereka. *ikut berprasangka*