widji tukul dan lucky luke
Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan/di sana bersemayam kemerdekaan/apabila engkau memaksa diam/aku siapkan untukmu: pemberontakan!
beberapa tahun yang lalu saya membaca tentang tentang laki-laki yang menulis puisi ini disebuah majalah. saya lupa majalah apa.
entah karena saya saat itu sedang terimbas eforia kebebasan pasca insiden sembilanpuluh delapan atau karena apa, dengan kata lawan dan pemberontakan sajalah saya mengasosiasikan widji tukul. dan saya mulai mengagumi sosok yang satu ini.
sayang kekaguman saya berhenti disitu saja. saya tidak berusaha mengenal lebih jauh sosok widji tukul apalagi terinspirasi untuk melakukan apa yang pernah diperjuangkan widji tukul. so much for admiration.
karena status ym seseorang hari ini, saya kembali teringat tentang widji tukul. dan berpikir tentang ...
apa yah.
hmmm.
saya kok belum nemu kata yang tepat untuk rasa kagum yang membuat kita menjadikan seseorang yang kita kagumi itu suatu nilai kebenaran.
dengan widji tukul, hal itu tak tersangsikan. widji tukul memang konsisten dengan kata-kata yang ada di dalam puisi-puisinya. lawan.
dengan beberapa orang lainnya? hmm saya harus berpikir dua kali. mungkin lebih.
beberapa kali saya mendengar tentang si ini dan si anu yang tidak seperti disangkakan orang lain. dipikirnya sombong ternyata ramah sekali. dipikir kalem dan tidak banyak bicara ternyata obrolannya pedas dan deras seperti mitraliyur. dipikirnya baik ternyata ah well ...
saya mengalaminya sendiri. dan itu kok er ... menyakitkan ya jenderal?
dihianati pikiran kita sendiri?
mungkin iya. mungkin tidak.
mungkin beberapa orang memang ahli dalam mencitrakan diri sendiri. mungkin saya yang percaya mati. merasa nyaman teraminkan oleh sisi yang saya kagumi dari seseorang itu.
katakanlah saya meyakini xyz lalu orang saya yang kagumi itu berbicara tentang xyz. saya kagum. lalu mematrikannya sebagai suatu kebenaran. dan tak lama menggeneralisasikan apapun dari isi kepalanya sebagai tiada lain adalah kebenaran.
ketika akhirnya tidak selamanya semuanya benar...
... muncullah dua jenis orang yang kecewa tersakiti (termasuk yang disebabkan isi kepalanya sendiri).
yang membabibuta tetap mengagumi dan menerimanya sebagai kebenaran hakiki, atas nama gengsi atau apalah,
... dan yang menjadi oposisi yang sulit dimengerti.
termasuk yang bertempur dengan bayangannya sendiri?
8 Responded
itu namanya keyakinan ya, alam bawah sadar yang akhirnya memaklumi atau bahkan menepiskan keraguan dan kekecweaan.
btw, soalan widji tukul. yang mengagumkan karena ceritanya berhenti pada saat klimaks. coba kalau widji masih ada, mungkin bisa jadi berakhir seperti tokoh satunya, menjabat ketua partai, dan lawan hanya jadi kenangan. spt cinderella, untungnya ditutup dengan cerita dia menikah dan bahagia. setelahnya? who knows.. :D
"dihianati pikiran kita sendiri?"
mmm...ini menyebalkan. sebel sama diri sendiri :(
fansmu yang nomor satu itu memang ndoronya kaum sesat..!
sak kepepet2nya dia akan 'mengkambinghitambandotkan' . .
. . . . diri sendiri.. :P
kecewa adalah sapuan warna kesekian dari alur pembikinan sebuah lukisan yang indah. karena kecewa merupakan hal tak teraih dari indah yang terangan.
persepsi,..siapa yang bisa menyangkal persepsi.
Dan kita hidup ditengah tengahnya
begitulah kalau kita terjebak pada kesan yang kita bangun sendiri, lalu membuat pencitraan. kenyataan sering membuat kecewa.