tuhan dan telur dadar
kemarin pagi, saat orang-orang dalam perjalanan ke rumah ibadah (banyak orang menyebutnya rumah tuhan, ga heran tuhan itu dibilang maha kaya ya, abis rumahnya aja dimana-mana!), saya malah asik goler-goleran diatas tempat tidur memikirkan ... telur dadar.
iya. telur dadar. telur yang digoreng setelah sebelumnya dikocok-kocok itu.
sebenarnya urusan telur dadar ini sudah lama ada di kepala saya. tapi karena bukan hal yang sangat penting untuk dipikirkan (menurut saya! lagian saya juga sejenis orang yang malas mikir!) urusan telur dadar ini menguap begitu saja. sampai kemarin pagi itu.
bukan. bukan karena seorang sepupu saya pernah menjelaskan konsep trinitas dengan metafora sebutir telur.
karena saya lapar? mungkin saja ya. itu alasan yang terdengar lumrah. alasan sebenarnya sih lebih karena saya tidak pernah lagi menemukan telur dadar yang beraroma menggiurkan seperti jaman saya kecil dulu. ih!
dulu rasanya, tiap kali si mama membuat telur dadar (benernya membuat atau menggoreng sih?) harumnya tuh sudah bisa membuat air liur saya berebutan menetes. kalo dibilang itu mungkin nostalgia saya dengan masakan mama saya, rasanya juga bukan. soalnya hal yang sama juga terjadi ketika saya berangkat sekolah, dan saya membaui wangi telur dadar dari rumah yang saya lewati.
karena kemaren hari minggu, saya mengaitkannya dengan hal-hal berbau agama (karena mustinya saya berada di rumah ibadat kan?). menurut saya sih hal sejenis kehilangan kemampuan untuk membaui wangi telur dadar itu akibat saya yang kurang rasa syukur. tsaah.
gini. dulu jaman saya masih kecil, telur dadar yang dibuat dari sebutir telur bisa dibagi empat, buat papa, mama, saya dan adik saya. nah sekarang karena sudah punya uang sendiri untuk membeli telur, saya suka kemaruk membuat telur dadar dari paling sedikit dua butir telur. sayangnya tetap saja, aromanya menurut hidung saya, gitu-gitu aja. parah kan?
nah mungkin karena sambil tiduran (jadi isi otak saya bisa bergerak kesana kemari sesuai gerakan saya glibak-glibuk menoleh kanan-kiri tengkurang-menengadah) tumben-tumbenan si otak mau diajak bekerjasama memikirkan ada apa dengan fenomena telur dadar ini. fenomena kurang rasa syukur.
sadarkan kalo kita (eh, kita?) pas sedih atau susah deket banget ama yang namanya tuhan, tapi kalo lagi seneng, semua terpenuhi dengan mudah? hihihi ga janji?
tanpa mengaitkan hal kurang rasa syukur ini dengan tuhan sekalipun (judul tuhan dan telur dadar tentu lebih menarik daripada judul telur dadar kan?) saya rasa kurangnya rasa syukur ini sesuatu yang tidak semestinya terjadi. karena ada banyak hal yang dilarang tuhan (baca : agama) berawal dari rasa yang satu ini. karena kurang rasa syukur seringkali membuat kita mudah merasa iri hati, dengki, cemburu, kesal dan lain-lain. yang tidak jarang bermuara pada hal-hal yang lebih jahat.
gimana? alasan saya tidak ke gereja sudah cukup solid belum? tenang, saya tidak akan tambahi dengan alasan lagian buat apa rajin ke gereja kalau belum bisa tekun pada hal-hal kecil seperti mengucap syukur?' kok.
oops! ahlesan!
4 Responded
wah ............. baru baca lagi nih tulisan dirimu yang segar segar segar.
Bravoooo !!!! jadi pengen coret2 lagi nih mbak.
salam kangen.
tenang, kamu ga sendirian kok Na :D