kesempatan itu
'lho, emangnya masang koran termasuk tugasmu juga?"
'ngga sih, biasanya staffku yang pasang. tapi ini berhubung sabtu dan sendirian dikantor ya akulah yang pasang, lagian tadi juga minta bantuan anak housekeeping sih'
saya jadi nyesel sesudahnya. kenapa juga saya defensif gitu ampe buru-buru menjelaskan seakan-akan pekerjaan memasang koran itu ngga banget.
beuh.
gitu kok mau sok-sok dianggap atasan yang mau mengerti, yang populis, yang ndak semena-mena mentang-mentang atasan! hehe.
lagian apa salahnya pasang koran? ngga berat ini, meski musti jinjit karena papannya tinggi saudara-saudara!
seberapa sering ya kita menolak melakukan ini itu karena merasa ini itu bukan pekerjaan kita? salah siapa kalo ternyata ini itu membawa kunci untuk membuka pintu kesempatan?
tapi memang sih, hal yang sama bisa jadi bumerang. seorang teman, yang saya tahu memang sangat ringan tangan, mengaku kewalahan, anak buahnya menjadi sangat menggampangkan beberapa pekerjaan, karena tau sang atasan akan sooner or later turun tangan. duh.
loh bukannya mustinya anak buah jadi malu kalo atasan sampe ngerjain kerjaan yang harusnya dikerjain para anak buah? lha ini malah ada yang nyeletuk, 'ya biarin aja, atasan gajinya gede ini!'
mungkin karena hal yang sama pulalah terjadi fenomena yang bikin saya sedih. ceritanya di satu tempat yang memakai hasil nilai kinerja selama satu tahun kebelakang sebagai parameter peninjauan gaji di tahun berikutnya, terdapat beberapa pekerja yang menolak dinaikkan gajinya, karena errr... kesetiakawanan. sepertinya. jadi di lapangan orang-orang berprestasi ini sering menjadi bulan-bulanan rekan-rekan yang lain ketika ada tugas tambahan karena dianggap 'digaji lebih' jadi sudah seharusnya merekalah yang mengerjakannya. duh!
sebagai praktisi sumber daya manusia (tsaaaah!) miris saya. kenapa hanya karena 'tekanan' rekan kerja, orang-orang yang berhak mendapatkan 'pengakuan' lebih, tidak bisa menikmatinya? memilih untuk tidak menikmatinya? kenapa yang lain bukannya menjadikannya sebagai tantangan untuk menjadi lebih baik sehingga pengakuan yang lebih juga bisa mereka terima?
.. dan saya semakin merasa tidak seharusnya defensif tentang urusan memasang koran itu, karena selain bisa tahu dan menghargai apa yang dikerjakan anak buah saya (ga gampang jinjit-jinjit sambil memasang koran yang lebar itu dan memakukannya dengan thumbtack!) saya juga berkesempatan berbicara dengan seorang karyawan, yang membantu saya memasang koran, tentang beberapa hal yang bisa dikerjakan departemen saya untuk kepentingan khalayak ramai. kesempatan untuk service netting.
pic is from here.
0014619 Responded
hey! you stole my line!
btw (1st), i didn't mean to make you feel defensive.
btw (umpteenth), would you like me to send a stool for you to step on?
btw (umpteenth + 1), tell your good employees to think "fuck 'em!" when their freeloading co-workers chide them on their work ethic. and don't forget to give 'em a hug every now and then!
santay aja, jeng.
soal defensif pasang koran,
semua kan ada prosesnya untuk belajar
selamat belajar dan semoga naik kelas :D
tante, kenalan dong. saya juga punya koran tuh banyak di gudang.
terpaku pada tugas2 seperti dalam kontrak kok malah kaku rasanya ya. ikut-ikut mbantu bisa-bisa dikatai mentri negara urusan orang lain, dll. tapi lama-lama ketemu kok jalan tengahnya.
nggak nyangka. sehari setelah baca postingan ini, saya langsung mengalami hal yang sama.
pengen banget teriak di depan mukanya yang nyuruh, "KOK GUE SIH ??!!" hehehe...
emang sebetulnya tugas itu samasekali bukan tanggung jawab saya. tapi berhubung di kantor budaya kerjaan campur aduk udah lumayan ngetrend, ya apa mau dikata?
hmm.. apa gara2 email ttg salary adjustment kemaren itu ya, jadi dikasih 'tugas tambahan'? ^^;
hmmmm.. akhirnya jadi juga postingan yg ini yak! :D:D:D