kirimkan juga autan!
mengakui kemampuan orang lain bukan berarti mengkonfirmasi ketidakmampuan diri.
bukan karena tidak sigap atau tidak bersimpati dengan penderita para korban di jogjakarta ketika beberapa pihak memutuskan untuk membuat rencana yang matang sebelum memberikan sumbangan. tentu saja urgency tetap menjadi pertimbangan karena berpacu melawan waktu.
kenapa sih pakai rencana segala? udah aja kirim mie instan ama beras sesegera mungkin. pertanyaannya : emang ada kompor disana? gimana dengan persediaan air bersih untuk masak? dan banyak pertanyaan sejenis lainnya.
akui saja mungkin hanya sedikit dari kita yang benar-benar tahu apa yang harus dilakukan, siapa yang harus dihubungi dan bagaimana, siapa, dengan cara apa lainnya dalam menghadapi bencana seperti di jogja itu. jangan sampai maksud baik kita malah menciptakan double jeopardy.
pasti banyak dari kita yang terima email soal supaya tidak menyumbang susu formula dan dot bayi. see? mungkin sebelum membaca email itu kita sudah berpikir untuk menyumbangkan susu karena kita pikir akan baik untuk menjaga kesehatan rekan-rekan kita di jogja.
bantuan kita akan terdistribusi in a much more efficient, effective and proper fashion kan kalo ada sekelompok kecil yang mengerti tentang survival dan penanganan keadaan darurat berangkat ke lokasi untuk kemudian kembali dengan daftar apa-apa yang diperlukan lengkap dengan skala prioritasnya?
saya belajar dari usaha memberi bantuan yang didasarkan pada perencanaan yang baik dari satu kelompok yang saya tahu. ini sedikit dari apa yang dikirimkan tenda, selimut, fresh underwear, pembalut wanita, disinfektan, obat nyamuk, tissue basah, hand sanitizer, lotion anti serangga in addition to canned food, galons of aqua, and other ready to serve food.
see makanan pasti sudah banyak yang memikirkan tapi barang-barang untuk sanitary? bukan hal baru bencana semacam ini bisa berlanjut dengan korban-korban yang jatuh sakit karena kondisi sanitary yang kurang sehat dan tanpa air bersih yang cukup.
ah saya bermimpi departemen-departemen yang berkaitan dengan penanganan keadaan darurat akibat bencana alam mulai memikirkan contingency plan untuk situasi-situasi sejenis yang bisa saja terjadi kapan saja dimana saja di indonesia ini. kalo ngga terlalu yakin, mengakui kemampuan para ahli dengan mendengarkan mereka dan mendapatkan masukan-masukan melalui consultation meeting ngga merepotkan kan?
lebih repot mana dibanding mencari masukan atau mendengarkan ribuan masukan beranekaragam saat bencana sudah terjadi?
0011183 Responded
Juga jangan menjadi turis bencana, datang cuma untuk mejeng saja. :)
hmm.. butuh tenaga security juga, coz kata adikku banyak maling yang beraksi disana.
Hari Sabtu malam, task force gereja di mana saya beribadah mulai meluncurkan tenaga sukarelawan dari Jakarta. Mereka ini adalah sukarelawan berpengalaman (campur antara relawan Aceh & Nias) yang sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mereka berangkat dengan bekal seadanya. Tujuan? Mengkoordinasikan bantuan yang "baru akan dikumpulkan hari Minggu saat ibadah" agar tersalurkan dengan baik di daerah bencana. So, sebenarnya kalau mau benar-benar nyumbang, tenaga profesional-lah yang mesti dikirim ke sana mengingat "katanya" kucuran dana sudah seperti air terjun, mengalir ke.... ???