mengikuti kata hati
ada dua film yang saya tonton kemarin. sorry, haters dan the war within. temanya mirip. tentang kehidupan pasca the 911 bombing. keduanya bagus. sorry, haters memikat dengan acting robin wright yang keren abis dan tentu saja endingnya yang tidak disangka-sangka.
tapi the war within lebih memikat lagi. so riveting! saya terutama terpikat dengan intensitas dialog di film ini.
meski terorisme masih menjadi garis merah film ini tapi perjuangan hidup hasan, tokoh utama film ini, lengkap dengan peperangan batinnya jauh lebih sukses menjadi fokus dari film ini.
setelah diciduk aparat keamanan amerika karena dicurigai terlibat aksi terorisme, hasan yang tadinya hanya seorang mahasiswa pakistan yang sedang kuliah di perancis bertransfomasi menjadi hasan yang benar-benar terlibat dalam misi terorisme.
meski keterlibatan hasan dalam aksi terorisme begitu jelas digambarkan dalam film ini, kok saya tetap ngga bisa membenci dia ya? i can’t hardly hate him.
nah! don’t get me wrong. tentu saja saya tetap tidak setuju dengan aksi kekerasan semacam terorisme. ataupun memahami pemikiran yang didengungkan hasan bahwa yang dia lakukan adalah pekerjaan tuhan.
tapi juga bukan karena saya menganggap yang dilakukan hasan itu wajar karena mungkin trauma akan semua kepedihan dan penyiksaan yang dia alami selama dalam tahanan. toh tidak semua orang mengambil jalan yang sama dengan hasan.
mengesampingkan alasan-alasan yang mungkin, sejenis melakukan pekerjaan tuhan, balas dendam ataupun memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar, saya tetap menganggap bahwa dalam dalam banyak sisi kehidupan ada alasan-alasan yang seringkali tidak kita mengerti, bahkan tidak kita ketahui saat seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu.
yang mungkin kita tahu dan coba pahami adalah hal-hal yang sering didengungkan karena ini ataupun karena itu. hal-hal umum semacam ya itulah tadi, balas dendam ataupun perjuangan demi what so called kebenaran. tapi yang sebenarnya tetap gelap, tak teraba. beyond measure.
ngga usahlah bicara soal keyakinan, keputusan kita sehari-hari saja seringkali tidak didasarkan pada hal-hal yang jamak dipahami. terkadang kita hanya mengikuti kata hati.
saya terkesan ketika ali, anak kecil dalam film ini, mengatakan : tapi ayah saya mengajarkan untuk mendengarkan kata hati saya; sebagai respon terhadap penjelasan abcdedanz menjadi seorang yang dikatakan baik. sederhana, meski pengaplikasiannya sungguh jauh dari sederhana dalam hidup yang serba tidak menentu seperti sekarang.
saya tetap tidak menyetujui terorisme atas alasan ataupun justifikasi apapun. sama juga saya tidak akan menyetujui usaha membiarkan fear and hatred tumbuh bahkan dipupuk untuk kemudian berubah muka menjadi dendam. ataupun sikap saling menyalahkan. akan kemana kita selain menuju tingkat ketakutan, kengerian dan kebencian yang lebih lanjut lagi ketika kita membiarkan itu semua?
alah-alah ngomong apalagi saya ini hihihi... tonton aja deh. dijamin ngga nyesel. eh jangan percaya saya dink, ikuti kata hatimu saja :D
001311
dusta, katanya nggak ngeblog soal ini? huuu... :p