sisi-sisi
Jotted down on 20 February 2007 15:11 with 19 Responded
bipolar opposition. gitu kata teman saya. benar-benar big words for my tiny brain. ga tau kena angin apa saya sekarang ini mau sok-sokan pake kata yang memaknainya jauh lebih susah dari sekedar menerjemahkannya. aslinya cuma mau bercerita tentang kecenderungan banyak orang untuk melihat segala sesuatu dari sisi agama (saja). emang kenapa kalau memandang segala hal dari sisi agama saja, na? pertanyaan yang sama juga berkecamuk di kepala saya, teman.
segala sesuatu? err let's talk soal homoseksualitas, sesuatu yang nampaknya paling banyak dibicarakan akhir-akhir ini.
i have several gay friends. dan entah karena itu atau karena hal lain, beberapa teman seringkali bertanya if i am with or against homoseksualitas. dan entah kenapa pula diskusi yang mengikuti pertanyaan mereka itu akan selalu melihat homoseksualitas dari sudut pandang agama. saya gerah. satu karena saya tidak terlalu pintar soal agama (errr ilmu agama?) atau iman percaya atau apalah dan dua, karena nampaknya agama tidak cukup memberi ruang gerak untuk membicarakan soal homoseksualitas melalui argumentasi-argumentasi yang rasional.
religions, i agree with what a friend of mine once said, in their judgements, pretty much rely on black and white notion. jadi ketika banyak orang memilih melihat isu yang satu ini dari sudut pandang agama saja, adanya segala macam diskusi seperti tidak ada akhirnya. it's either you are with or against the practice. saya malah sok-sok curiga banyakan orang against such issue karena di kitab-kitab suci hal sejenis ini tidak dituliskan secara terang-terangan. dan menganggap yang tidak diatur masuk ke kategori black. tapi mungkin juga bukan itu masalahnya.
meminjam kalimat teman saya; on its part, any religion has done its job. agama telah memberikan pandangan, how vague it is for several people, tentang homoseksualitas.
unlike religions, kita punya ruang gerak yang lebih luas untuk mendiskusikan hal yang sama dari beberapa sudut. saya sendiri sampai hari ini melihatnya dari sisi bahwa semua keputusan akan direndengi oleh konsekuensi. jadi kalo sudah siap dengan segala konsekuensi, baik ataupun buruk, ya silakan. ini bukan saja buat yang berkeputusan menjadi gay. tapi juga yang memutuskan untuk go with or against the very issue. untuk yang memutuskan melihat isu ini dari sisi agama saja ataupun dari banyak sudut pandang lainnya. termasuk juga yang abstain misalnya dianggap payah tidak berani mengambil sikap, itu termasuk konsekuensi kan?
.. dan kita lalu belajar tentang saling menghargai. saya pribadi, meski tidak bisa (sampai saat ini) secara pasti mengatakan apakah saya with or against homoseksualitas (emang harus take side?), menghargai keputusan orang yang berorientasi homoseksual. tapi saya juga bisa mengerti kalo ada yang merasa tidak nyaman melihat dua laki-laki dewasa berciuman bibir. intinya semisal para gay meminta keputusannya dihargai, hal yang sama harus juga dilakukan bagi mereka yang berkeputusan menjadi seorang yang anti homoseksualitas. saling menghargai. kuncinyakah?
eda, kalo kutulis sebagai komentar panjang kali, jadi kuposting sajalah komentarku.
pic is from here.

Posted at 21 February 2007 08:50
yang penting saling menghargai yah :)
tapi personally, im not against any form of homosexuality