Nana, Terkadang mulut terlampau lelah berkata-kata. Dan seringkali kecepatan gerak mulut tak sejalan dengan letupan-letupan pemikiran di kepala. Maka menulis adalah jawabannya.
baca kalimat ini : kami, saya yakin segenap bla bla bla bla juga setuju bahwa hal seperti itu sangat tidak sesuai dengan norma ketimuran. (padahal belum pernah diadakan musyawarah untuk mufakat dengan segenap bla bla bla bla itu)
bandingkan dengan ini : saya yang memulai semuanya sampai sukses seperti sekarang. ya untuk beberapa tahap saya memang dibantu oleh beberapa teman.
sadar tak beberapa orang (indonesia?) seringkali memakai kata kami ketimbang saya? padahal saat menggunakan kata kami dia mewakili diri sendiri.
karena kata kami itu menyelamatkan?
kalo shit happens tinggal sembunyi dibalik selubung kata 'kami' meski ngga ketauan siapa itu kami yang dimaksud? biar kalo ada apa-apa ngga musti menanggung akibatnya sendirian?
Post a comment